Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2011

aku dan ikan kecil

Seekor ikan kecil sedang berusaha melawan arus sungai dikarenakan tujuannya berbalik arah dengan aliran sungai tersebut. Namun apa daya, sang ikan terlampau kecil untuk melawan derasnya arus sungai tersebut walaupun ia sudah berjuang tanpa henti. Dan pada akhirnya, sang ikan kecil itupun hanyut mengikuti arus sungai itu dan jatuh ke bawah bersama air terjuan di ujung sungai tersebut.

Mungkin ikan kecil itu cerminan dari diriku sendiri, yang tidak mampu dalam melawan arus, tapi bedanya, ikan kecil itu sudah berjuang keras, sedangkan aku, hanya diam dan pasrah mengikuti kemana arus itu pergi.

Seseorang pernah mengatakan, bahwa hidup itu layaknya sebuah sungai, kita hanya tinggal mengikuti arusnya saja dan pada akhirnya kita akan menemukan tujuan. Tetapi, bagaimana jika tujuan tersebut tidak sesuai dengan keinginan kita? Haruskah kita memulai semuanya dari awal? Hidup ini tidak semudah game yang bisa di-restart ulang..

ya, inilah aku..
seorang gadis yang pengecut yang hanya bisa mengikuti arus, tanpa berani melawan..
sudah beberapa kali aku berusaha memotivasi diriku sendiri..
tapi tetap saja, diriku ini tetap lemah dan tak berdaya..

Diam, diam, dan diam ..
Hanya itu yang bisa aku lakukan ..
Biarlah aku menjerit dalam hati saja, agar semua orang tahu bahwa aku baik-baik saja..
Dan segalanya akan baik-baik saja ..

Minggu, 09 Oktober 2011

sebuah catatan kecil untukmu

Entah apa yang ingin aku utarakan disini
Kata-kata apa yang harus aku tuliskan untuk mengungkapkan betapa sayang dan cintanya aku kepadamu
Dan betapa rindunya aku saat ini

Terima kasih, untuk kau yang memelukku disaat aku gelisah
Terima kasih, untuk kau yang membangunkan aku di saat aku jatuh
Terima kasih, untuk kau yang menenangkanku disaat aku takut
Terima kasih, untuk kau yang senantiasa menemaniku ketika aku kesepian
Terima kasih, untuk kau yang selalu ada untukku
Untuk kau yang selalu rela berkorban untukku

Maaf, aku belum menjadi orang yang layak untukmu
Aku belum bisa membalas semua yang telah kau berikan untukku
Tapi aku janji, saat aku sudah mencapai kesuksesan
Kau adalah orang pertama yang akan kuhampiri
Dan aku akan membisikkan sebuah kalimat di telingamu
............

“Mama,terima kasih untuk segalanya”

Jumat, 17 Juni 2011

karena dewasa adalah pilihan

saatnya aku keluar pintu Sekolah Menengah ..
menuju ke gerbang Perguruan Tinggi..
bukan Perguruan Tinggi yang aku cari ..
namun masa depan yang ingin digapai ..
yang sudah terancang pada skenario yang dibuat oleh-Nya..

kini aku mulai bertanya-tanya..
skenario apa yang sudah dirancang untukku??
akan jadi bagaimana aku saat dewasa nanti??
baguskah?? jelekkah??
namun aku yakin itu yang terbaik..
aku bingung,
jika rancangan hidupku sudah diatur sedemikian rupa,
kenapa aku masih harus memilih??
bagaimana jika aku memilih jalan yang salah? apakah rancangan tersebut akan berubah?

sejujurnya, aku takut ..
bukan takut menjadi dewasa..
hanya saja, aku takut jika masa depan saya tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan..

apakah semua remaja mengalami kegalauan sepertiku??
saat usia menuju kematangan,
berlari meninggalkan kekanak-kanakan dan menuju kedewasaan ..

terkadang aku ingin sekali berhenti di suatu waktu,
saat dimana aku dikelilingi oleh orang-orang yang aku sayangi ..
karena berkat merekalah aku merasa "ada" ..

aku rindu dengan masa kecilku ..
masa dimana yang aku tahu hanyalah bermain, bermain dan bermain ..
lalu aku sadar ..
tidak ada gunanya aku mengkhayal tentang masa lalu ..
dan tidak selamanya aku berada dalam masa kecilku ..
waktu terus berputar, bahkan jam pun tidak mau menunggu barang satu detik pun ..

"karena dewasa adalah pilihan"

Kamis, 02 Juni 2011

cerita tentang tukang kayu

Seorang tukang kayu yang sudah tua dan tidak lagi mampu bekerja karena alasan fisik, bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tidak lagi bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya untuk menghidupi keluarganya. Namun keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan persaan malas dan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Dan saat membangun rumah pesanan majikannya itu, ia menggunakan bahan-bahan dengan kualitas yang sangat rendah. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah dengan kualitas yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu," katanya, "hadiah dari kami."

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri. (www.pondokbaca.com)